
ATIOS.ID, Jakarta– Ketua Umum Asosiasi Teknologi Informasi & Open Source (ATIOS), Azwir Irvannanda, mengikuti sebagai peserta pelatihan pada pembukaan YSEALI CyberSafe ASEAN Workshop 2026 (27/1) yang diselenggarakan di Hotel Double Tree by Hilton, Cikini, Jakarta. Program regional ini berfokus pada penanganan kejahatan digital terorganisir lintas negara, termasuk penipuan daring (online scams) yang dijalankan melalui jaringan kriminal terstruktur, pusat-pusat operasi penipuan (scam compounds), dan ekosistem kejahatan siber transnasional yang berdampak langsung pada keamanan, kemanusiaan, serta stabilitas kawasan Asia Tenggara.
YSEALI CyberSafe ASEAN merupakan bagian dari Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI), sebuah inisiatif resmi Pemerintah Amerika Serikat melalui U.S. Department of State, dengan dukungan U.S. Mission to ASEAN. Program ini dirancang sebagai pelatihan peningkatan kapasitas (capacity building) dan kolaborasi regional untuk merespons ancaman kejahatan digital yang semakin kompleks, terorganisir, dan lintas yurisdiksi.
Pembukaan hari pertama diawali dengan sambutan resmi dari Joy M. Sakurai, Chargé d’Affaires U.S. Mission to ASEAN, yang menekankan pentingnya kerja sama lintas negara dan lintas sektor dalam menjaga keamanan ruang digital ASEAN. Penguatan kapasitas sumber daya manusia, pertukaran informasi, serta kolaborasi regional dinilai menjadi kunci dalam menghadapi jaringan kejahatan digital yang beroperasi secara terorganisir dan sistematis.

Sesi pembukaan kemudian dilanjutkan dengan opening remarks dari Robert T. Koepcke, Deputy Assistant Secretary U.S. Department of State, yang menegaskan bahwa praktik penipuan daring di Asia Tenggara telah berkembang menjadi bagian dari ekosistem kejahatan siber transnasional, termasuk keberadaan scam compounds yang berfungsi sebagai pusat operasi penipuan dengan struktur kerja menyerupai organisasi kriminal atau mafia digital. Pola ini menimbulkan dampak serius, tidak hanya kerugian ekonomi, tetapi juga persoalan kemanusiaan dan keamanan regional.
Hari pertama pelatihan juga menghadirkan keynote speech dari Scott Augenbaum, pakar pencegahan kejahatan siber dan mantan agen FBI. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya membangun cybersecure mindset, dengan menempatkan faktor manusia sebagai titik krusial dalam rantai serangan. Menurutnya, jaringan kejahatan digital terorganisir—termasuk yang beroperasi dari scam compounds—secara sistematis mengeksploitasi aspek psikologis korban melalui phishing, social engineering, dan manipulasi kepercayaan.
Program YSEALI CyberSafe ASEAN 2026 diikuti oleh sekitar 60 peserta terpilih dari seluruh negara anggota ASEAN, yang berasal dari berbagai latar belakang lintas sektor. Peserta mencakup perwakilan masyarakat sipil, akademisi dan peneliti, praktisi teknologi dan keamanan siber, pembuat kebijakan publik, sektor keuangan dan anti-fraud, hingga komunitas advokasi dan literasi digital. Keberagaman ini dirancang untuk memastikan pendekatan yang multidisipliner dan kolaboratif dalam memahami serta merumuskan solusi terhadap ancaman kejahatan digital terorganisir.
Sebagai peserta aktif, Ketua Umum ATIOS mengikuti seluruh rangkaian sesi pembukaan bersama peserta dari berbagai negara ASEAN. Partisipasi ini mencerminkan komitmen ATIOS untuk terus memperkuat kapasitas internal organisasi, memperdalam pemahaman praktis mengenai pola, jaringan, dan ekosistem kejahatan digital terorganisir—termasuk fenomena scam compounds, serta memperluas jejaring kolaborasi regional dalam upaya pencegahan dan penanggulangan ancaman siber lintas batas.
Workshop ini akan berlangsung hingga 30 Januari 2026, dengan agenda lanjutan berupa diskusi tematik, kerja kelompok lintas negara (strike teams), perancangan solusi konkret, hingga presentasi akhir. Program ini juga membuka peluang fase pasca-workshop, di mana tim terpilih berkesempatan memperoleh dukungan lanjutan untuk menguji solusi yang dikembangkan di komunitas masing-masing.
Melalui keterlibatan langsung dalam pelatihan regional ini, ATIOS menegaskan pendekatan berbasis pembelajaran, kolaborasi, dan aksi nyata dalam menghadapi kejahatan digital terorganisir lintas negara—termasuk praktik penipuan berbasis scam compounds—serta memperkuat peran masyarakat sipil dan komunitas teknologi dalam menjaga ruang digital yang aman, beretika, dan bertanggung jawab di kawasan ASEAN. (PA/FDLN)


